Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2014

Buku Pegangan Siswa dan Guru Kurikulum 2013 Edisi 2014 Untuk Jenjang SD dan SMP

Buku Pegangan Siswa dan Guru Kurikulum 2013.ranupatjeh.com
Kurikulum 2013 akan meringankan beban Orang Tua, karena sebagian besar Buku ditanggung oleh Pemerintah. Buku Pegangan Siswa dan Guru pada Tahun Pelajaran 2014/2015 lebih lengkap bila dibandingkan dengan Tahun Pelajaran 2013/2014 yang hanya terbatas pada 3 Judul saja, yaitu Sejarah Indonesia, Bahasa Indonesia dan Matematika.

Berikut ini akan saya bagikan Buku - buku Pegangan Siswa dan Guru Kurikulum 2013 edisi 2014 untuk jenjang SD dan SMP yang saya peroleh dari blog http://matematohir.wordpress.com.

Berikut ini daftar lengkpnya. Silakan diunduh bila berkenan.







Saleum Rakan
RANUP ATJEH

Jumat, 14 Maret 2014

Landmark Terkenal Dunia yang Ternyata Punya Kembaran


Gedung putih, Stonehenge, Mount Rushmore, London's Tower Bridge, dan Taj Mahal adalah beberapa landmark terkenal di dunia. Siapa sangka kelima landmark tersebut ternyata memiliki kembaran atau replika yang dibangun di tempat berbeda. Penasaran? Apakah kembaran mereka mirip dengan aslinya? Berikut adalah lima landmark terkenal dunia yang ternyata punya kembaran atau replika. Yuk mari kita simak bersama!

  
1. Gedung Putih


Hanya terletak beberapa mil di luar McLean, Virginia, Amerika Serikat, terdapat sebuah replika yang lebih kecil dari Gedung Putih aslinya, yang dijual pada tahun 2011. Replika rumah presiden Amerika ini dijual dengan harga USD 4,65 juta atau sekitar Rp 53 miliar. Eksterior bangunan ini bahkan memiliki tingkat kemiripan yang mencolok dengan aslinya. 


Replika ini juga mempunyai ikon Truman Balcony, ruang makan Lincoln, dan Oval Office yang dimiliki oleh Gedung Putih yang asli. Rumah itu kabarnya dibangun khusus untuk orang Selandia Baru yang meminta namanya tidak disebutkan untuk menjaga privasinya. Butuh waktu tujuh tahun untuk membuat replika Gedung Putih, dan replika tersebut dibangun oleh seorang insinyur asal Vietnam yang berimigrasi ke Amerika setelah mendapatkan gelar PhD.

  

2. Mount Rushmore National Memorial

 

Mount Rushmore National Memorial adalah sebuah landmark terkenal yang dibangun di Gunung Rushmore dekat Keystone, South Dakota, Amerika Serikat. Patung ini diukir pada tebing granit yang menampakkan empat wajah presiden terkenal Amerika. Namun rupanya, replika landmark ini juga pernah dijumpai di sebuah taman di Chongqing, China, dari tahun 1937 sampai 1945. 

Menurut situs Dale di China, pemerintah China sengaja membangun replika itu untuk menghormati orang - orang Amerika yang membantu mengalahkan Jepang. Karena selama tahun - tahun itu, China sedang berada dalam perang yang panjang dan berdarah, terutama dengan Jepang.

 


3. Stonehenge

 

Stonehenge adalah monumen prasejarah yang terletak di Wiltshire, Inggris, sekitar 2 km sebelah barat Amesbury dan 8 km sebelah utara Salisbury. Para arkeolog percaya bahwa Stonehenge dibangun pada 3000 SM sampai 2000 SM.

Replika monumen prasejarah tersebut dibangun dengan ukuran yang sama di Maryhill, Washington, Amerika Serikat. Di bangun pada awal abad 20 oleh seorang pengusaha bernama Samuel Hill, replika ini didedikasikan pada 4 Juli 1918 sebagai monumen pertama untuk menghormati mereka yang tewas dalam Perang Dunia I.

 


4. Londons Tower Bridge


Tower Bridge adalah sebuah jembatan yang menjadi salah satu landmark kota London. Jembatan ini melintasi Sungai Thames dan berada dekat dengan Tower of London. Dibangun pada 22 April 1886, jembatan ini kemudian dibuka untuk umum pada 30 Juni 1894. Horace Jones dan George D Stephenson adalah arsitek yang berperan penting dalam pembangun jembatan ini. Replika London's Tower Bridge juga dapat ditemui di Suzhou, China. Bedanya, Tower Bridge versi China tidak tidak memiliki mekanisme untuk memungkinkan kapal lewat di bawahnya.




5. Taj Mahal



Taj Mahal adalah sebuah bangunan bersejarah yang berlokasi di Agra, Uttar Pradesh, India. Ini dibangun oleh Kaisar Mughal, Shah Jahan, untuk mengenang istri ketiganya, Mumtaz Mahal. Taj Mahal juga dianggap sebagai contoh terbaik dari arsitektur Mughal, yang mengombinasikan unsur-unsur arsitektur Islam, Persia, Ottoman Turki dan India.

Sementara itu, replika Taj Mahal dibangun Bangladesh, atau terletak 10 km di sebelah timur ibukota Bangladesh, Dhaka, di Sonargaon. Ahsanullah Moni, seorang pembuat film yang kaya dari Bangladesh, mengumumkan proyek pembuatan replika Taj Mahal pada Desember 2008. Proyek tersebut menelan biaya sekitar USD 56 juta atau sekitar Rp 639 miliar.

 

Inilah lima landmark terkenal dunia yang ternyata punya kembaran.







Saleum Rakan

Rabu, 26 Februari 2014

Ratu Nahrasiyah, Keagungan Seorang Ratu


Ratu Nahrasiyah merupakan salah satu ratu ternama di Kerajaan Samudera Pasai. Kegungannya tampak pada makamnya yang dibuat dari pualam penuh ukiran kaligrafi.


Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian, MA dalam tulisannya di buku Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah” mengungkapkan bahwa Ratu Nahrasiyah merupakan seorang ratu yang menjadi pusat perhatian para ahli sejarah untuk menulisnya. Tak terkecuali Dr Cristian Snouck Hourgronje dari Belanda.


Ketika awal awal diangkat menjadi guru besar di Rijks Universiteit Leiden, dan dikukuhkan pada 23 Januari 1907, Snouck sangat tertarik untuk meneliti tentang kuburan Ratu Nahrasiyah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai. Dalam buku “Arabie en Oost Indie,” 1907, Snouck menulis tentang Ratu Nahrasiyah yang dimakamkan di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai yang makamnya terbuat dari pualam, yang merupakan makam ratu Islam yang terindah di Asia Tenggara, yang dihiasi dengan ukiran kaligrafi.


Menurut Snouck makan Ratu Nahrasiyah merupakan duplikat dari makam Umar ibn Akhmad al-Kazaruni di Cambay, Gujarat, India yang mangkat pada 734 H atau 1333 M. Bentuk nisan seperti itu satu abad lebih setelah wafatnya Ratu Nahrasiyah juga dipakai pada pembangunan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur.

Melihat bentuk makamnya yang indah dan istimewa, bisa dipastikan kalau Ratu Nahrasiyah merupakan raja perempuan terbesar pada zamannya. Pada nisannya terdapat nukilan-nukilan huruf Arab yang berisi informasi tentang makam tersebut: Ibrahim Alfian menjelaskan, ukiran berbahasa Arab itu bila diterjemahkan dalam bahasa Melayu bermakna;

“Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci Ratu yang terhormat almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah...putri Sultan Zain al-Abidin putera Sulthan Ahmad putra Sulthan Muhammad Putra Sulthan Al Malikul Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya, meninggal dunia dengan rahmat Allah pada hari Senin 17 Zulhijah 832.”

J. P. Moquete dalam “De Grafsteenen te Pase en Grisse verge leken met dergelijke mo menten uit Hindoestan” memperkirakan tanggal dan tahun hijriah yang tertera di makam itu bertepatan dengan 27 September 1428 masehi.

Menurut Ibrahim Alfian, kebiasaan raja-raja Pasai selalu mengeluarkan mata uang emas yang disebut deureuham atau dirham, namun dirham atas nama Ratu Nahrasiyah yang memerintah lebih 20 tahun tidak ditemukan baik dalam berbagai koleksi maupun literatur numismatik mata uang emas kerajaan kerajaan Islam di Aceh.

Mengenai hal itu Ibrahim Alfian menjelaskan hal itu karena Ratu Nahrasiyah setelah suaminya syahid, dengan suami yang kedua sama-sama memimpin Kerajaan Samudera Pasai. Suaminya, Salahuddin tidak memakai gelar Malik az-Zahir pada sisi depan mata uang emasnya karena ia bukan keturunan dinasti Malik az-Zahir. Hanya pada sisi belakang dirhamnya tercantum kata “As Sulthan Al Adil” sebagaimana lazimnya dirham emas raja-raja Pasai. Dirham Salahuddin beratnya 0,60 gram dengan diameter 10 mm dengan mutu emas 17 karat.

Ratu Nahrasiyah merupakan anak dari Sulthan Zainal Abidin yang mangkat pada tahun 1405. Pada masanya dikeluarkan dirham dengan sisi depan bertulis Arab, “Zainal Abidin Malik az Zahir” dan di bagian belakang tertulis, “As Sulthan Al Adil”.

Dirham milik Sulthan Zainal Abidin berdiameter 13 mm dengan berat 0,06 gram dengan mutu emas 18 karat. Dalam literatur Tiongkok seperti kronik Dinasti Ming (1368-1643), nama Sulthan Zainal Abidin dikenal dengan sebutan Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki.

Dicatat dalam Ying-yai Sheng-lan Ibrahim Alfian menjelaskan, berdasarkan kronik Dinasti Ming buku 32 diungkapkan, Raja tsa-nu-li-a-pi-ting-ki mengirimkan utusan-utusannya ditemani seorang penerjemah (sida-sida) Cina bernama Yin Ching ketika menghadap raja Cina Ch’engtsu (1403-1424) dan membawakan upeti. Maharaja Cina kemudian mengeluarkan dekrit dan mengangkatnya sebagai raja Sumatera. Raja tsa-nu-li-a-pi-ting-ki mengirim upeti setiap tahun kepada Ch’engtsu selama maharaja itu masih hidup.

Selain jejak sejaran berupa nisan, keterangan tentang Ratu Nahrasiyah juga terdapat dalam buku sejarah Cina, “Ying-yai Sheng-lan” yang berisi tentang laporan umum mengenai pantai-pantai Sumatera waktu itu. Ma Huan seorang pelawat Cina muslim dalam pengantar buku itu menjelaskan, karena dapat menerjemah buku-buku asing, ia dikirim oleh maharaja Cina ke berbagai negeri mengiringi Laksamana Cheng Ho.

Di dalam Ying-yai Sheng-lan diceritakan bahwa Raja Samudera diserang oleh Raja Nakur, dan dalam pertempuran itu, Raja Samudera tewas terkena panah beracun. Permaisurinya menyatakan sumpah di depan rakyatnya bahwa siapa yang dapat menuntut balas atas kematian suaminya, ia akan menikahinya dan bersedia pula untuk memerintah kerajaan Samudera bersama-sama.

Muncullah sosok yang telah berumur, seorang Panglima Laot, pejabat kerajaan yang ditugaskan untuk mengurus perikanan menyatakan kesanggupannya untuk mengemban amanah itu. Makan berangkatlah ia memimpin bala tentara Samudera untuk berperang melawan Raja Nakur. Dalam peperangan itu, pasukan Raja Nakur berhasil dikalahkan, menyerah dan mengundurkan diri, serta berjanji tidak akan melakukan permusuhan terhadap Kerajaan Samudera. Ratu, sebagaimana seharusnya seorang pemimpin, menepati janjinya dan menikah dengan Panglima Laot.

Pada tahun 1409 M, karena sadar akan kewibawaanya, suami sang ratu itu mengantar upeti kepada raja Cina Ch’engtsu (1403-1424) yang terdiri dari berbagai hasil bumi negerinya dan diterima dengan senang hati oleh raja Cina. Dalam tahun 1412 ia kembali ke Samudera, putra raja terdahulu yang telah beranjak dewasa secara rahasia bersekutu dengan para bangsawan dan berhasil membunuh ayah tirinya seta mengambil alih tampuk kerajaan.

Suami kedua ratu itu yang mempunyai kemenakan Su-Kan-Lah (Sekandar, Iskandar). Ia mengumpulkan pengikut-pengikutnya beserta keluarga-keluarga mereka, lalu menarik diri ke daerah pegunungan. Di sana ia mendirikan benteng pertahanan dan kemudian melakukan serangan-serangan ke Samudera untuk menuntut balas atas kematian pamannya, Sulthan Salahuddin.

Pada tahun 1415 M Cheng Ho dan armadanya mengunjungi Kerajaan Samudera. Dalam Kronik Dinasti Ming (1368-1643) buku 32 diceritakan, Sekandar bersama dengan beberapa ribu pengikutnya menyerang dan merampok Cheng Ho. Serdadu-serdadu Cina dan rakyat Samudera dapat mengalahkan mereka, membunuh sebagian besar penyerang itu dan mengejar mereka sampai ke Lambri di ujung pulau Sumatera.

Sekandar kemudian tertangkap dan dibawa sebagai tawanan ke istana maharaja Cina. Di sana Sekandar dijatuhi hukuman mati. Menurut Ibrahim Alfian, ratu yang dimaksud dalam cerita Cina itu tak lain adalah Ratu Nahrasiyah, putri Sulthan Zainal Abidin.

Nisan dengan Surat Yasin
Pada makan Ratu Nahrasiyah terukir surat Yasin dengan kaligrafi yang indah bersama ayat kursi yang termaktub dalam surat Al Baqarah. Selain itu terdapat juga petikan dari kitab suci Alquran antara lain ayat 18 dan 19 surat Ali Imran. H B Jasin dalam buku “Bacaan Mulia” terbitan Jembatan, Jakarta, 1991 menterjemahkan kedua ayat itu :

Allah menyatakan
Tiada Tuhan selain Ia
Yang berdiri di atas keadilan
Demikian pula malaikat
Dan orang berilmu [menyatakan demikian]
Tiada Tuhan selain Ia
Yang maha perkasa
Yang maha bijaksana

Sunguh,
Agama pada Allah ialah Islam
Dan tiada berselisih orang
Yang diberii Alkitab
Kecuali sesudah beroleh ilmu
Karena kedengkian antara sesama
Dan, barang siapa ingkar ayat-ayat Allah
Sungguh, Allah cepat dalam perhitungan

Ayat 285 dan 286 dalam surat Albaqarah juga turut dipahat pada makam Ratu Nahrasiyah. Kedua ayat itu ditafsirkan bermakna :

Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya.
[demikian pula] orang-orang yang beriman
Masing-masin [mereka] beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasulnya.
“Kami tiada membedakan Rasul-rasul-Nya yang satu dari yang lain,” [kata mereka]
Dan mereka berkata [pula]
“Kami mendengar dan kami taat, berilah kami ampun, Tuhan kami,
Jangan hukum kami, kepadamulah kami kembali.”

Allah tiada membebani seseorang,
Kecuali menurut kemampuannya.
Ia mendengar [pahala] dari [kebaikan] yang dilakukannya
Dan mendapat [azab] dari [kejahatan] yang dilakukannya
[Berdoalah] “Tuhan kami jangan hukum kami, jika kami lupa atau melakukan kekeliruan.

Tuhan kami, janganlah bebani kami dengan beban [yang berat]
Seperi yang Kau bebankan atas orang sebelum kami.
Ampunilah kami dan rahmatilah kami
Kaulah pelindung kami
Maka tolonglah kami melawan kaum kafir.”

Makam Ratu Nahrasiyah tampak begitu penting bagi rakyatnya, sehingga dibangun dengan sangat indah. Makan itu dibuat begitu monumental, penuh kebesaran dan keindahan, sebesar dan seindah masa hidupnya sebagai seorang ratu. Terhadap kebesaran dan keagungan Ratu Nahrasiyah itu, di akhir tulisannya Ibrahim Alfian menulis:

“Kita yang sekarang hidup di lingkungan yang jauh lebih sekuler mungkin tak lagi begitu memahami dan menghayati arti makam. Akan tetapi, kitapun selalu merasakan dan menyaksikan bahwa selalu ada yang kurang dalam hidup. Para wisatawan yang berasal dari negara-negara makmur berkelana ke wilayah-wilayah yang lebih jauh dari tempat asalnya untuk sesuatu yang terasa kurang itu. Dan makan Ratu Nahrasiyah yang begitu agung dan indah ini mungkin salah satu yang dicari mereka dan mungkin pula kita semua.”





Saleum Rakan
RANUP ATJEH

Pocut Meurah Intan


Pocut Meurah Intan adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue. Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan keluarga sultan Aceh. Ia juga biasa dipanggil dengan nama tempat kelahirannya. Biheue adalah sebuah kenegerian atau ke-uleebalangan yang pada masa jaya Kesultanan Aceh berada di bawah Wilayah Sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad ke-19, kenegerian itu menjadi bagian wilayah XXII mukim : Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale dan Laweueng.

Keluarga

Suami Pocut Meurah Intan bernama Tuanku Abdul Majid, Putera Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah. Tuanku Abdul Majid adalah salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh yang pada mulanya tidak mau berdamai dengan Belanda. Karena keteguhan pendiriannya dalam menentang Belanda, ia disebut oleh beberapa penulis Belanda sebagai perompak laut, pengganggu keamanan bagi kapal-kapal yang lewat di perairan wilayahnya, sebutan ini berkaitan dengan profesi Tuanku Abdul Majid sebagai pejabat kesultanan yang ditugaskan untuk mengutip bea cukai di pelabuhan Kuala Batee.

Keturunan

Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Meurah Intan memperoleh tiga orang putera, yaitu
  1. Tuanku Muhammad yang biasa dipanggil dengan nama Tuanku Muharnmad Batee,
  2. Tuanku Budiman, dan
  3. Tuanku Nurdin.

Perlawanan terhadap Belanda

Tokoh anti-Belanda

Dalam catatan Belanda, Pocut Meurah Intan termasuk tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Hal ini di sebutkan dalam laporan colonial "Kolonial Verslag tahun 1905", bahwa hingga awal tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalan Pocut Meurah Intan. Semangat yang teguh anti Belanda itulah yang kemudian diwariskannya pada putera-puteranya sehingga merekapun ikut terlibat dalam kancah peperangan bersama-sama ibunya dan pejuang-pejuang Aceh lainnya.

Berperang bersama putera-puteranya

Setelah berpisah dengan suaminya yang telah menyerah kepada Belanda Pocut Meurah Intan mengajak putera-puteranya untuk tetap berperang. Ketika pasukan Marsose menjelajahi wilayah XII mukim Pidie dan sekitarnya, dalam rangka pengejaran dan pelacakan terhadap para pejuang, Pocut Meurah Intan terpaksa melakukan perlawanan secara bergerilya. Dua di antara ketiga orang puteranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi terkenal sebagai pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda. Mereka menjadi bagian dari orang-orang buronan dalam catatan pasukan Marsose.

Tertangkapnya Tuanku Muhammad Batee

Pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap oleh satuan Marsose Belanda yang beroperasi di wilayah Tangse, Pidie. Pada tanggal 19 April 1900, karena dianggap berbahaya, Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara, dengan dasar Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 25. pasal 47 R.R.

Tertangkapnya Pocut Meurah Intan

Peningkatan intensitas patroli Belanda juga menyebabkan tertangkapnya Pocut Meurah Intan dan kedua puteranya oleh pasukan Marsose yang bermarkas di Padang Tiji. Namun, sebelum tertangkap ia masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak Belanda. la mengalami luka parah, dua tetakan di kepala, dua di bahu, satu urat keningnya putus, terbaring di tanah penuh dengan darah dan lumpur laksana setumpuk daging yang dicincang-cincang. Pada luka-lukanya itu disapukan setumpuk kotoran sapi, keadaannya lemah akibat banyak kehilangan darah dan tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan, luka-lukanya telah berulat. Mulanya ia menolak untuk dirawat oleh pihak Belanda, akhirnya ia menerima juga bantuan itu. Penyembuhannya berjalan lama, ia menjadi pincang selama hidupnya.

Dimasukkan ke dalam penjara

Pocut Meurah Intan sembuh dari sakitnya; bersama seorang puteranya, Tuanku Budiman, ia dimasukkan ke dalam penjara di Kutaraja. Sementara itu, Tuanku Nurdin, tetap melanjutkan perlawanan dan menjadi pemimpin para pejuang Aceh di kawasan Laweueng dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap Tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju, yang sebelumnya Belanda telah menangkap isteri dari Tuanku Nurdin pada bulan Desember 1904, dengan harapan agar suami mau menyerah. Tuanku Nurdin tidak melakukan hal tersebut.

Setelah Tuanku Nurdin di tahan bersama ibunya, Pocut Meurah Intan dan saudaranya Tuanku Budiman dan juga seorang keluarga sultan yang bernama Tuanku Ibrahim di buang ke Blora di Pulau Jawa berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda, tanggal 6 Mei 1905, No. 24. Pocut Meurah Intan berpulang ke-rakhmatullah pada tanggal 19 September 1937 di Blora, Jawa Tengah dan dimakamkan di sana.

Pocut Meurah Intan: Kartini lain sebelum Kartin

Raut wajah wanita cantik itu terlihat garang. Air mukanya memendam dendam dan angkara murka. Tegas dia meminta kepada tuan qadhi untuk mem-fasakh [memutuskan] ikatan perkawinannya dengan tuanku Abdul Madjid, yang telah menyerah kepada kompeni Belanda. Sirna sudah rasa cinta yang menumpuk di dada, lenyap sudah rasa hormat terhadap sang suami yang selama ini begitu dia sanjung dan puja. Yang telah bersama-sama berjuang mempertahankan tanah tumpah darah dari jajahan kompeni Belanda. Berang dan kecewa rasa hatinya tak terkira, menyaksikan sang suami takluk dan bertekuk lutut pada penjajah kafe [kafir] Ulanda [sebutan untuk Belanda dalam bahasa Aceh]. Usai sudah perkawinannya, dan secara psikologis, kini dirinya hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan bebas untuk menentukan langkah kehidupannya. Tak harus tunduk apalagi patuh pada seorang pengkhianat negeri.

Satu pesan ayahandanya yang begitu melekat di hatinya adalah, bahwa seorang muslim WAJIB berjuang mempertahankan negeri dan agamanya dari tindasan penjajah, hingga ke tetes darah penghabisan. JANGAN PERNAH MENYERAH, JANGAN PERNAH TAKUT. Dan itulah yang akan diteruskannya, walau tak lagi ada teman setia [sang suami] yang menjadi mitra. Perang ini harus dilanjutkan, Islam harus ditegakkan dan kemerdekaan negeri ini harus tetap dipertahankan. Maka bersama ketiga putranya, dibantu seorang kepercayaan [tangan kanannya] bernama Pang Mahmud, wanita perkasa itu melanjutkan perjuangan.

Pocut Meurah Intan, begitu wanita ini dikenal, memang bukan wanita biasa. Darah biru yang mengalir kental di dalam tubuhnya adalah titisan sang ayah, Teuku Meurah Intan,  seorang hulubalang negeri Biheue [suatu daerah yang terletak antara Sigli dan Padang Tiji], yang telah menanamkan nilai-nilai agamis dan kecintaan terhadap tanah air pada putri jelitanya, Pocut Meurah Intan, yang lahir pada tahun 1873, di desa Lam Padang, mukim VI, Laweung, Pidie.

Patahnya semangat dan takluknya sang mantan suami pada Belanda, adalah pemicu meningkatnya kebencian dirinya terhadap kafe Ulanda. Apalagi saat itu situasi  perang Aceh, memang sedang memasuki masa-masa sulit, masa-masa kritis yang terkadang mampu melemahkan jiwa. Terlebih dengan mangkatnya Sultan Alaidin Mahmud Syah dalam perang 'kuman' dan digantikan oleh Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah yang masih berusia 10 tahun, sehingga pemerintahan harian terpaksa didelegasikan kepada tuanku Hasyim Banta Muda.

Peperangan  semakin dasyat, kekuatan Belanda semakin berlipat akibat didatangkannya tambahan pasukan Belanda dari Betawi [Jakarta]. Ibukota pemerintahan Aceh terpaksa ditarik ke Indrapuri, yang selanjutnya pindah ke Keumala Dalam. Keadaan semakin memanas dan para pejuang Aceh terpaksa melakukan berbagai manuver, mengubah perang frontal menjadi perang gerilya raksasa di seluruh Aceh, baik di daerah pesisir, pedalaman dan terutama di basis-basis pegunungan. Pertempuran terjadi hampir setiap saat, dan menimbulkan kerugian yang tidak terhitung jumlahnya, baik dalam segi materi maupun jiwa, dari kedua belah pihak.

Bersama para pengikutnya, didukung penuh oleh tiga putra tercinta yang gagah berani, yaitu tuanku Budiman, tuanku Muhammad dan tuanku Nurdin, serta Pang Mahmud sang tangan kanan, Pocut memimpin perjuangan untuk daerah Laweung dan Batee [Kabupaten Pidie sekarang]. Dalam bukunya berjudul Aceh, Zentgraaff menulis, bahwa wanita-wanita Aceh sangat gagah berani. Dikisahkan tentang suatu kejadian ketika pasukan Belanda mengepung sebuah kampung di Pidie, seorang suami tertembak dan rubuh dalam dekapan istrinya. Menyadari bahwa sang suami dalam dekapannya telah tak bernyawa, si wanita lalu mengambil rencong suaminya dan menyerbu brigade dan menyerang mereka, namun seorang marsose berhasil memukul tangannya hingga puntung. Bukannya menyerah, si wanita dengan tangan kirinya malah memungut rencong yang berlumuran darah itu dan kembali menyerang hingga dia sendiri tewas tertembus peluru marsose.

Kisah lain tentang keberanian para srikandi Aceh ini juga dituangkan Zengraaff dalam bukunya sebagai berikut ;
sepasukan Belanda telah mengetahui bahwa ada sekelompok pejuang yang bersembunyi di sebuah rumah di Tangse. Lalu pasukan Belanda hendak menggerebek namun seorang wanita, istri si pemilik rumah dengan gagah berani menghadang marsose yang sedang menaiki tangga. Dengan lantang dia berseru, melarang para marsose memasuki rumahnya. Tentu saja marsose marah dan membentaknya, namun dengan lebih keras, dia balas membentak para kafe Ulanda, melarang mereka menginjakkan kaki dirumahnya. Tentu saja sikap ini semakin membuat para marsose naik pitam, dan memukul kaki wanita ini dengan popor senjatanya, hingga si wanita terjatuh. Barulah dia bergeser dan para marsose menyerbu ke dalam rumah. Adu mulut dalam tenggang waktu beberapa menit tadi tentu memberi kesempatan bagi para pejuang yang bersembunyi di dalam rumah untuk lari menyelamatkan diri, alhasil, para marsose pulang dengan tangan kosong.

Kisah lain yang tak kalah heroik adalah ketika Geldorp dan tiga pasukannya menyergap tempat persembunyian para pejuang yang terdiri dari 4 orang laki-laki beserta istri-istri mereka. Pertempuran yang tak berimbang itu menyebabkan para lelaki mati syahid dan menyisakan para wanita. Yang mengejutkan adalah, tindakan para wanita yang hendak mereka sandera itu sungguh diluar dugaan. Dengan sigap mereka mengambil senjata-senjata milik suami mereka dan mulai mengadakan perlawanan, menyerang pasukan marsose dengan membabi buta hingga ke empatnya mati syahid, menyusul sang suami.

Keberanian dan semangat baja nan pantang menyerah dalam diri Pocut dan pasukannya, mau tak mau membuat pasukan Belanda semakin kesulitan dalam menaklukkan daerah ini. Semakin digencet semakin liat. Pocut dan pasukannya semakin gencar melakukan aksinya, beberapa peperangan tak terhindarkan pun terjadi di Biheu, Laweung, Lam panah dan Lam Teuba. Belanda semakin gusar dan marah, hingga semakin gencar melakukan serangan-serangan untuk menghentikan aksi yang dipimpin Pocut. Belanda mulai mencatat bahwa Pocut tak dapat diremehkan. Wanita ini sungguh bernyali besar, cerdas dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Wanita ini sungguh berbahaya dan harus diantisipasi dengan cermat, atau malah segera dibasmi sepak terjangnya.

Maka berbagai upaya pun dilakukan oleh pasukan Belanda untuk menghentikan sepak terjang Pocut dan pasukannya, hingga suatu hari, tepatnya pada awal November 1902, ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayjen T. J Veltman sedang melakukan patroli di daerah basis gerilya, yaitu di daerah Laweung, Biheu, mereka menemukan seorang wanita yang dari tatapannya terlihat jelas memendam kebencian terhadap mereka. Pemeriksaan terhadap wanita ini pun dilakukan. Namun kala anggota pasukan mendekatinya, dan hendak memeriksanya, wanita ini diluar dugaan mencabut rencong yang terselip dibalik pakaiannya dan dengan segala upaya, menyerang mereka sembari berteriak penuh amarah.

"Kalo begitu, biarlah aku mati syahid!" Dan pertempuran 1 lawan 18 orang anggota Marsose itu pun pecah.

Pocut masih berdiri tangguh kala serdadu serdadu itu menebas senjata. Wanita itu masih berdiri kokoh seraya menghunus rencong kala pedang marsose menebas dan meninggalkan dua luka di kepalanya, serta dua luka di bahunya. Ia baru terjatuh ketika pedang tajam itu menghunus ke otot tumitnya hingga putus. Terjatuh, rubuh, di atas tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Dengan dada yang berlubang, luka membujur di sekujur tubuh dan banyak kehilangan darah, bahkan salah satu urat di keningnya terputus! Terbaring di atas tanah berlumur lumpur dan darah, hingga salah seorang anggota marsose yang tak tega menyaksikan penderitaan Pocut, memohon ijin kepada Veltman agar diijinkan mengakhiri penderitaan Pocut dengan menembakkan peluru ke tubuhnya agar tewas.

Tentu saja Veltman tak menyetujui, dan memerintahkan pasukannya untuk berlalu, dan membiarkan Pocut terbaring untuk ditemukan oleh warga desa dan diberikan pertolongan. Di lubuk hatinya, Veltman dan pasukannya menyimpan rasa hormat dan takjub akan keberanian para wanita Aceh yang begitu heroik dan gagah berani. Suatu hal yang sangat jarang mereka saksikan di dunia ini, yang mungkin tidak akan ada pada wanita bangsa mereka sendiri.

Pocut ditemukan dan dirawat oleh para penduduk, dan walau masih dalam masa kritisnya, tetap bertekad untuk lanjutkan perjuangan. Tak hanya itu, Pocut juga telah menyusun rencana untuk menghabisi si pengkhianat negeri, musuh dalam selimut, yaitu penduduk desa yang telah menjadi mata-mata Belanda.

Sementara itu, Veltman yang kemudian mengetahui bahwa wanita yang bentrok dengan pasukannya itu adalah seorang pemimpin gerilya, berusaha mencari tau keberadaannya, dan hatinya sungguh terenyuh kala menyaksikan Pocut terbaring lemah, tak berdaya dengan kain kusam yang membalut luka-luka di tubuhnya. Yang lebih membuatnya terenyuh adalah, penduduk desa menggunakan kotoran sapi sebagai antibiotik alami demi menyembuhkan luka-luka Pocut. Sungguh mengiris hati, apalagi melihat wanita pemberani itu menggigil dan mengerang penuh kesakitan.

Terketuk hatinya, pemimpin pasukan Belanda yang fasih berbahasa Aceh ini berupaya keras membujuk Pocut agar bersedia diobati oleh dokter Belanda. Pocut menolak keras, tak sudi tubuhnya disentuh/diobati oleh tangan-tangan para kafe Ulanda. Namun akhirnya berkat bujukan Veltman, Pocut menyerah dan bersedia untuk diobati. Proses penyembuhan memakan waktu yang lama dan akhirnya walau pun sembuh, Pocut mengalami cacat fisik [pincang] pada kakinya.

Mendengar keberanian Pocut melawan pasukan Veltman seorang diri hanya dengan sebilah rencong, Komandan militer Scheuer memutuskan untuk mengunjungi dan bertemu Pocut, yang tentu saja didampingi oleh Veltman, yang juga bertindak sebagai penerjemah. Komandan Scheuer menaruh hormat kepada Pocut, tanpa dibuat-buat, murni dari lubuk hatinya. Setulus hati dia meminta Veltman untuk menyampaikan kepada Pocut, bahwa dirinya sangat kagum pada Pocut. Sikapnya ini memancing rasa apresiasi dari Pocut, membuat wanita itu mengangguk dan tersenyum padanya. Namun itu tak berarti bahwa Pocut akan menghentikan peperangan dalam rangka mempertahankan negerinya... Perang akan berlanjut dan para kafe Ulanda harus angkat kaki dari tanah rencong ini!

Perjuangan memang terus berlanjut, bumi Aceh terus bergolak karena para gerilyawan terus beraksi. Pocut masih belum sembuh total dan tetap dalam pengawasan Belanda. Perjuangan dilanjutkan oleh ketiga putranya serta Pang Mahmud yang setia. Sayangnya, pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap, dan karena dianggap sangat berbahaya bagi keamanan penjajahan Belanda, maka pada tanggal 19 April 1900 beliau diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 25 pasar 47 R.R. Sementara dua putra Pocut yang lainnya diasingkan ke tanah Jawa.

Ketika sembuh dari sakitnya, Pocut masih melanjutkan perjuangan bahkan masih mampu memimpin pasukan, walau akhirnya berhasil ditangkap dan dijadikan tahanan Belanda, dan bersama putranya tuanku Budiman dimasukkan ke penjara Belanda, Kutaraja. Dalam waktu yang sama, tuanku Nurdin tetap melanjutkan perjuangan dan memimpin para pejuang di kawasan Laweung dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju. Sebelumnya Belanda terlebih dahulu menangkap istri dari tuanku Nurdin sebagai taktik untuk membuat tuanku Nurdin menyerah, namun ternyata taktik ini tidak membawa hasil.

Kemudian, pada 6 Mei 1905, Pocut beserta kedua putranya yaitu tuanku Nurdin dan tuanku Budiman serta seorang saudaranya, tuanku Ibrahim diasingkan ke tanah Jawa, tepatnya di Blora, Jawa Tengah, berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Mei 1905, No. 24. . Dan sejak itu, perjuangan Pocut dan putra-putranya tak lagi menemukan kesempatan untuk berlanjut. Ketiganya hidup dalam pengasingan, dan kemudian Pocut Meurah Intan menghembuskan napas terakhirnya pada 19 September 1937, di pengasingan. Jauh dari tanah rencong, tanah tumpah darahnya tercinta.

Makamnya terletak di desa Temurejo, Blora, Jawa Tengah, dan pernah ada rencana dari Pemerintah Aceh untuk memindahkan makam Pocut ke tanah kelahirannya, namun amanah Pocut yang disampaikan pada salah seorang sahabatnya di Blora, yaitu RM Ngabehi Dono Muhammad, bahwa Pocut lebih senang bersemayam di Blora membuat rencana ini tak jadi dilanjutkan.



Saleum Rakan
RANUP ATJEH

Sejarah Putroe Phang


Pada abad ke-17 Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda mengalami masa keemasan dan termasuk salah satu kekuatan adi daya di dunia khususnya di kawasan Selat Malaka.


Di balik kesuksesan seorang laki-laki selalu ada orang perempuan di balik layar. Bagi Sultan Iskandar Muda, perempuan di balik layar itu adalah permaisurinya yang bernama Puteri Pahang yang dalam bahasa Aceh lebih dikenal dengan sebutan Putroe Phang.

Perkenalan Sultan Iskandar dengan Puteri Pahang ini berawal ketika Aceh Darussalam berhasil menaklukkan Pahang. Bersamaan dengan itu, keluarga istana Pahang bersama sekitar 10.000 penduduknya berimigrasi ke Aceh untuk memperkuat pasukan Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Muda rupanya tertarik dengan seorang puteri dan Pahang yang bernama Puteri Kamaliah. Puteri Kamaliah kemudian dinikahi Sultan Iskandar Muda dan diangkat menjadi permaisurinya. Karena Puteri Kamaliah berasal dan Pahang, rakyat Aceh memanggilnya dengan Putroe Phang.

Puteri Kamaliah masyhur karena cerdas dan bijaksana dalam memutuskan persoalan yang dihadapi masyarakat Aceh Darussalam. Pada suatu hari, terdapat kasus pembagian harta waris dengan dua ahli waris yakni seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Adapun harta yang menjadi objek pembagian adalah berupa sawah dan rumah. Diputuskan bahwa anak perempuan mendapatkan sawah sedangkan anak laki-lakinya mendapat rumah.

Anak perempuan tersebut tidak menerima keputusan tersebut dan melakukan banding. Mendengar kasus tersebut, Putroe Phang langsung meresponnya dan membela perempuan tersebut dengan argumen bahwa wanita tidak mempunyai rumah dan tidak dapat tinggal di meunasa (mushola) sedangkan anak laki-laki dapat tinggal di musola. Oleh karena itu, yang layak menerima rumah adalah wanita sedangkan yang layak menerima sawah adalah anak laki-laki. Argumen Putroe Phang itu kemudian disetujui oleh Sultan Iskandar Muda.

Sejak itu, Puteri Kamaliah yang lebih dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai Putroe Phang itu menjadi rujukan dalam penyelesaian masalah hukum.

Kerja sama Sultan Iskandar Muda yang gagah, berani, dan adil dengan Permaisuri Putroe Phang yang bijaksana dan selalu membela rakyat yang lemah terutama wanita dan kaum papah mengantarkan kejayaan Aceh menuju masa keemasan.

Di samping Permaisuri Putroe Phang yang berkontribusi bagi pembangunan Aceh Darussalam, terdapat pula beberapa lembaga pemerintahan. Secara struktural, Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin eksekutif tertinggi yang dibantu beberapa pejabat tinggi. Mereka adalah Qadhi Malikul Adil dengan empat orang mufti di bawahnya, Menteri Dirham (keuangan), Baitul Mal yang dibawahnya ada Balai Furdhan (bea cukai).

Di samping lembaga eksekutif terdapat pula lembaga musyawarah yang terdiri atas :
1)           Balairung Sari, terdiri atas empat anggota hulubalang
2)           Balal Gading, terdiri atas 22 ulama
3)           Balai Majelis Mahkamah Rakyat (Parlemen), terdiri atas 73 anggota yang mewakili setiap mukim (daerah), Aceh Darussalam dibagi atas 73 mukim.

Balai Sari dan Balai Gading masih merupakan rumpun lembaga eksekutif sedangkan Balai Majelis Mahkamah Rakyat masuk dalam rumpun lembaga legislatif.

Lembaga-lembaga ini secara resmi dibentuk pada tanggal 12 Rabiul Awal 1042 (1633) dan ditulis dalam suatu undang-undang yang disebut dengan Qanun Al-Asyi Darussalam.

Perkawinan Sultan Iskandar Muda dengan Puteri Kamaliah dianugerahi seorang puteri yang bernama Puteri Sari Alam yang menikah dengan Sultan Iskandar Tsani dan setelah suaminya itu meninggal Puteri Sari Alam naik tahta menjadi Sultanah dengan gelar Sultanah Tajul Alam Safiatuddin.

Sultan lskandar Tsani juga dikenal dengan Raja Mughal. Ia adalah putera dan Raja Ahmad Syah Pahang. yang termasuk keluarga Pahang yang dibawa Sultan Iskandar Muda ke Aceh. Nama asli Puteri Pahang adalah Puteri Jamilah (ada yang menyebut “Kamaliah”) yang juga terkenal dengan nama Putroe Phang. Menurut satu riwayat. perkawinan Puteri Pahang dengan Sultan Iskandar Muda berlangsung setelah melalui peristiwa yang sangat luar biasa.

Pada suatu hari Sultan Pahang bersama Permaisurinya yang bernama Puteri Jamaliah (Putroe Phang) menghadap Sultan Iskandar Muda dan dalam pertemuan itu Sultan Pahang yang bernama Raja Abdullah (Raja Raden) menyatakan mengetahui niat suci Iskandar Muda menaklukan kerajaannya demi memperjuangkan agama dan menyingkirkan kawasan Melayu dan imperialis Barat dan untuk itu rela menceraikan istrinya untuk dinikahi Sultan Iskandar Muda.

Setelah mendapatkan persetujuan dan keluarga permaisuri Puteri Sendi Ratna Indra (permaisuri pertama). Sultan Iskandar Muda bercerai dengan Puteri Sendi Ratna Indra. Setelah masing-masing istri menyelesaikan masa iddahnya, Sultan Iskandar menikah dengan Puteri Jamaliah dan Raja Abdullah menikah dengan Puteri Sendi Ratna lndra.

Bukti cinta Sultan Iskandar Muda terhadap Putroe Phang adalah bangunan Gunongan. Bangunan ini dibangun untuk membuktikan cintanya kepada Putroe Phang.

Putroe Phang sangat berpengaruh dalam pemerintahan dan penyusunan undang-undang kerajaan sampai-sampai lahir semboyan :

Adat bak Poeu Meureuhom
Hukum bak Syiah Kuala
Qanun bak Putroe Phang
Reusam bak Bentara

Artinya :
Adat dari Marhum Mahkota Alam
Hukum dan Syiah Kuala
Qanun dan Puteri Pahang
Resam dan Bentara (‘uleebalang)
Adat meukoh reubung
Hukum Meukoh purih
Adatjeutabarangho taking
Hukum hanjuet barangho takih

Artinya :
Adat dapat dipotong seperti memotong rebung
Hukum seperti memotong sagak (hujung buluh keras)
Hukum tak dapat diatur dengan semena-mena
(melainkan wajib didasarkan Quran dan Hadis)

Ketika Putri Phang mangkat, upacaranya dilakukan dengan megah dan khidmat. Kain jendela dan tirai Istana Keraton Darud Dunia diganti dengan kain warna hitam. Upacara pelepasan dilaksanakan dengan khidmat seperti dilukiskan oleh Muhammad Junus Djamil sebagai berikut :

“Ketika jenazah diturunkan dan Istana, Sultan Iskandar Muda turun di depan, didampingi dua bentara keraton yang berpakaian serba hitam berselempang merah. Yang di sebelah kanan memegang pedang terhunus bersandar di bahu kanannya dan yang disebelah kirinya memegang payung hitam terbuka yang disebut Payoong panyang-go. Di Mideuen (halaman istana) telah siap segenap barisan dan setelah berhenti sejenak tampil ke muka bentara Keujruen Tandil Keraton Darud Dunia (Tandil Mujahid Chik Seri Dewa Purba) untuk mengucap berita duka dan memohon doa selamat kepada Allah SWT serta selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Keranda jenazah yang berhias serba indah dengan hiasan keemasan dan permata diletakkan di atas tandu keemasan yang berbentuk segitiga. Masing-masing ujung segitiga dipikul oleh tiga pembesar dan tiga dewan negara, yaitu dewan Mong-mong Angkatan Laut, Angkatan Darat. Didepan sekali berdiri Ketua Dewan Mufti empat (Khuja Madinah) yang lebih terkenal dengan Khuja Pakeh yang berpakaian serba putih (sorban dan jubah) dengan tongkat di tangan kanannya. Di belakangnya diikuti dua pembesar negara Perdana Menteri Seri Ratna Bijaya Sang Raja Meukuta Dilamcaya yang bernama Orang Kaya Seri Maharaja Laila dan Qodli Malikul Adil, keduanya memegang jambangan air mawar yang dibuat dari emas berhias permata. Di belakang mereka, dua orang Bentara yang membawa jambangan teurapan-geutanggi yang mengeluarkan asap dari pembakaran ramuan-ramuan setanggi yang harum semerbak baunya.

Di sebelah kanan keranda (peti jenazah) berdiri Laksamana Meurah Ganti yang berpakaian serba hitam, berselimpang merah serta pedang yang terhunus bersandar di bahunya. Di sebelah kiri berdiri Bentara Tandil (Datuk Bendahara Muhammad Tun Sari Lanang) yang mengembangkan payung kuning keemasan yang berumbai mutiara ke atas keranda dan beliau juga berpakaian hitam dan teungkulook leumbayung di kepalanya, serta berselempang merah. Di bagian belakang jenazah (diantara dua cabang tandu) berdiri Seri Sultan Iskandar Muda yang diikuti di belakangnya sebelah kanan oleh Putera Mahkota (Poteu Cut) dan di belakang sebelah kiri adalah menantu beliau, Pangeran Husain Mughayat Syah bin Sultan Ahmad Perak. Di belakangnya barulah barisan menteri-menteri dan raja-raja serta iringan yang berjumlah ratusan mengikuti di belakang mereka.

Setelah selesai ucapan berita duka barisan bergerak menuju Masjid Raya Baiturrahman dan setelah selesai upacara shalat jenazah, jenazah kembali ke Kraton Darud Dunia dan terus menuju ke pemakaman raja-raja/Sultan. Keranda jenazah dibawa masuk ke dalam makam lalu dilaksanakan upacara pemakaman. Yang turun ke dalam liang lahat adalah Laksamana Meurah Ganti dan Datuk Bendahara Muhammad Tun Seri Lanang (Bentara Tandil Samalanga). Ke dalam Keranda ditungkanlah emas urai (pasir tanah) sekitar tubuh jenazah Putroe Pahang, keranda (peti mati) ditutup lalu di timbun dengan tanah sebagaimana biasa dan acara pemakaman selesai.






Saleum Rakan