Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Wanita. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

Tangisan Seorang Ibu


Tangisan seorang ibu bermula ketika dia mengetahui dirinya hamil. Tangisan bahagia sekaligus tawa sumringah berpadu menjadi satu. Ketika dia merasakan untuk pertama kalinya, ada seorang calon bayi yang tumbuh di dalam rahimnya. Dan akan merasakan serta menghirup kehidupan dunia dalam asuhannya dan naungan kasihnya. Setelah melewati bulan demi bulan kehamilan yang terkadang lancar dan mulus, tetapi tak jarang pula kehamilan itu diwarnai perjuangan untuk mempertahankan Sang Anak, membuat tangis dan tawa memenuhi hari-harinya.

Banyak kejadian ketika seorang ibu harus berjuang melawan rasa mual yang luar biasa umumnya dalam 3 bulan pertama, sampai kena maag karena terus-menerus muntah tanpa bisa diisi apa pun termasuk air putih. Belum lagi, ketika kandungan mulai membesar, tak jarang komplikasi beruntun. Mulai dari kadar gula darah yang meningkat dan mungkin membahayakan Sang Anak, kaki yang bengkak akibat kebanyakan garam dan kemungkinan menyerangnya preeklampsia serta dilanjutkan dengan eklampsia. Belum lagi ada resiko keguguran di tengah jalan akibat begitu banyak flek alias pendarahan yang terjadi selama kehamilan.Toksoplasma juga mungkin menggangu. Dan rentetan penyakit lainnya yang berpotensi menghentikan kehamilan itu seketika. Banyak kali, seorang ibu hanya menangis memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa Sang Anak harus pergi dari rahimnya.

Tangisan haru seorang ibu berlanjut ketika Sang Anak lahir ke dunia dengan selamat. Disambutlah ia dengan suka cita. Saat itu berpadulah tangisan dan tawa menjadi satu. Bahagia menjadi seorang ibu, lengkaplah sudah dirinya sebagai wanita, sekaligus memiliki PR panjang untuk membesarkan anak. Bukan hanya memberikan ASI eksklusif dan menemani Sang Bayi dalam waktu-waktu panjang yang terkadang harus dilalui sendirian dalam malam-malam ‘sleepless nights’. Kurang tidur, begadang, jaga sampai pagi, bangun tengah malam, hanya untuk mengurusi Sang Anak. Sekaligus kebahagiaan tersendiri, tawa ceria kembali menghiasi ketika Sang Anak sudah mulai bisa tengkurap, merangkak, berdiri, duduk, berjalan. Ketika Sang Anak bisa mulai menggumamkan “Mama atau Papa,” selalu disambut dengan kebahagiaan luar biasa. Semua yang untuk pertama kalinya dicatat dalam buku hariannya, buku kehidupannya sebagai seorang ibu.

Ketika Si Anak mulai memasuki balita sampai mereka lebih mengerti mungkin sekitar umur 7-8 tahunan, tangisan itu terkadang hadir ketika harus mendidik dan mendisiplinkan Sang Anak. Karena lelah, karena tak sanggup menahan segala tekanan ketika mengasuh anak apalagi jika ibu ini bekerja atau ibu rumah tangga tanpa bantuan dari pembantu atau ‘baby sitter’, terkadang menjadikannya tidak sabaran. Dan ketika dia mulai marah kepada anaknya, berteriak kencang, sering kali dia kemudian menyesali apa yang dilakukan. Namun memang Si Anak terkadang juga masih belum mengerti dan melakukan apa yang dilarang. Tak jarang membahayakan Si Anak sendiri. Dalam ketakutan, dalam kekuatiran, dalam kelelahan, tak jarang Si Ibu menyimpan tangisnya sendirian. Walaupun tawa ceria juga hadir ketika Si Anak semakin pintar, semakin cerdas, semakin mampu berdoa, semakin menceriakan hari-harinya.

Tangisan juga hadir dari dulu ketika Si Anak lahir, terutama ketika dia sakit. Dengan pikiran yang umum, “ Mending Mama yang sakit daripada kamu, Nak,” begitu kata hati seorang ibu. Si Anak kecil yang belum lancar bicara, ketika sakit tak mampu bilang bagian mana yang sakit. Dia hanya menangis dan sebagai ibu pasti juga menangis sedih melihat Si Anak sakit.

Tangisan ini terkadang menjadi lebih keras, ketika Si Anak sakit keras dan mungkin sulit diobati. Pergumulan antara uang yang pas-pasan yang terkadang sampai tak cukup untuk berobat dengan keinginan untuk menyembuhkan Si Anak apa pun yang terjadi, menjadi dilema tersendiri. Namun ketika Si Anak kembali sembuh seperti sedia kala, yang ada hanya senyuman bahagia. Syukurlah, anakku sudah sembuh!

Tangisan bahagia itu hadir ketika melihat Si Anak melewati masa-masa sekolahnya. Tahun berganti tahun, TK-SD-SMP-SMU-Universitas, pelan-pelan terlewati dengan segala masalah yang mengiringinya. Kurang biaya sekolah, anak berpacaran sementara konsentrasi terhadap pelajaran menjadi buyar namun akhirnya bisa dilewati semua dengan baik. Setelah kuliah, Si Anak bekerja dan tak lama akan menikah.

Dalam pergumulan menentukan jodoh, seorang ibu juga sering menangis mendoakan anaknya yang belum juga mendapat jodoh sementara usia sudah beranjak terus. Gelisah, resah, galau, berganti ceria ketika Si Anak sudah mendapatkan jodoh yang sesuai. Tangisan itu masih mengiringi ketika Sang Cucu hadir. Tangisan haru. Tangisan bahagia. Bercampur senyum manis sumringah. Satu babakan hidup lagi sudah berlalu.

Tangisan dan senyuman itu terus dan terus berjalan. Tak henti-hentinya. Bukankah dalam setiap babak kehidupan juga adalah gabungan keduanya? Tak mungkin juga senyum terus-menerus. Atau sebaliknya, selalu menangis tak kunjung usai. Seorang ibu terus mengkhawatirkan anak-cucunya. Selalu terlibat dalam tangisan dan senyum suka cita. Selalu berdoa untuk anak-cucunya agar mereka sehat dan bahagia. Walaupun dia simpan air matanya, dia menegarkan dirinya untuk mengarungi kehidupan ini. Berdiri tegar bagi keluarganya.

Beberapa perkawinan harus hancur di tengah jalan. Karena ketidakcocokan lagi sehingga harus bercerai atau mungkin karena salah satu pasangan meninggal terlebih dahulu. Ibu mana yang bisa tak peduli dengan hal-hal semacam ini? Dia menangis bersama anaknya untuk setiap kejadian memilukan seperti ini. Dan memberikan harapan serta kekuatan, bahwa akan ada hari esok yang lebih baik. Yang harus dilakukan hanyalah tetap berharap dan tak berhenti berjalan. Tetap percaya akan keindahan kehidupan yang mungkin tersembunyi, namun selalu ada bagi mereka yang mau mencari dengan teliti dan tanpa henti.

Tangisan dan tawa mengiringi kesetiaan seorang ibu sampai akhir hayatnya. Dan bersama figur ayah yang juga setia, mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga sampai maut memisahkan mereka serta mempersatukan mereka kembali dengan Sang Pencipta.






Saleum Rakan

Kamis, 06 Maret 2014

Pahlawan Wanita Atjeh

 


10 Pahlawan Wanita Perkasa dari Aceh

 
Perempuan millenium Indonesia masih berjuang menegakkan kesamaan haknya yang terinspirasi oleh “gerutuan” R.A. Kartini. Namun, 7 abad lalu perempuan Aceh telah menikmati hak - haknya sebagai manusia yang setara tanpa perdebatan. Barangkali selama ini yang kita kenal pahlawan perempuan dari Aceh mugkin hanya Cut Nyak Dien saja. Hal ini dapat dipahami karena perjuangan heroiknya melawan Balanda sudah difilmkan, dimana pemeran sebagai Cut Nyak Dhien adalah Christine Hakim. 

Akan tetapi sebenarnya Cut Nyak Dhien hanyalah satu dari sekian banyak perempuan Aceh yang memiliki kehebatan yang luar biasa di Aceh. Dan itu sudah ada jauh sebelum isu emansipasi dikembangkan. Sebab peran mereka melebihi peran para laki-laki pada saat itu.


Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh, Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang pada nisannya bertuliskan Arab dan Jawa Kuno. Dituliskan di nisan itu, orang yang dimakamkan adalah Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365. Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan itu juga dapat diperoleh di kitab Negara Kartagama tulisan Prapanca. Disebutkan, Samudera Pasai merupakan daerah yang ditaklukkan oleh Hayam Wuruk, dengan Patihnya Gajah Mada. Buku Hikayat Raja Raja Pasai juga menyebutkan tentang kekuasaan Majapahit terhadap Pasai. Setelah segala sesuatunya diatur di Pasai, laskar Majapahit kembali ke Jawa. Namun, sebelum kembali, pembesar-pembesar Majapahit mengangkat seorang Raja, yaitu Ratu Nur Ilah. Ratu Nur Ilah merupakan keturunan Sultan Malikuzzahir. Tidak banyak keterangan yang didapatkan oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.


Perempuan Aceh memang luar biasa. Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum pria. Bahkan, pekerjaan peperangan pun, yang biasanya seluruhnya dilakukan oleh kaum pria, diterjuninya pula. Mereka menjadi panglima, memimpin ribuan laskar di hutan dan di gunung-gunung. Bahkan ada laskar wanita yang disebut Inong Bale. Mereka ini para janda yang menuntut kematian suaminya. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari suaminya bila suaminya berpaling muka kepada Belanda. Kaum pria Aceh pun bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan tertinggi dan rela pula menjadi anak buahnya. Diantaranya mereka yang amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nyak Dhien, Laksamana Kumalahayati, dan sebagainya.


Beberapa periode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh perempuan. Selain Ratu Nur diatas, ada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah. Sementara yang terjun ke medan pertempuran, ada Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan. Ada pula yang menjadi uleebalang (penguasa lokal). Diantara panglima-panglima tersebut, yang banyak disebut-sebut oleh pendatang Barat adalah Laksamana Malahayati. Mereka ini oleh peneliti barat disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilon dan Katherina II Kaisar Rusia.



1. Ratu Nahrasiyah



Dr. C. Snouck Hurgronje terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. Makam yang terbuat dari pualam itu, merupakan makam yang terindah di Asia Tenggara. Makam yang dihiasai dengan ayat – ayat Quran tersebut, adalah makam seorang raja perempuan bernama Nahrasiyah. Ratu tersebut tentu seorang raja yang besar, terbukti dari hiasan makamnya yang sangat istimewa. Ratu merupakan putri Sultan Zain al-Abidin. Sayang, sedikit sekali sumber sejarah tentang dirinya – yang memerintah lebih dari 20 tahun. Kerajaan Samudera Pasai senantiasa mengeluarkan mata uang emas. Namun, kepunyaan Ratu sampai saat ini belum ditemukan. Sementara itu, dirham ayahnya ditemukan – dimana disisi depan mata uang tersebut tercantum “Zainal Abidin Malik az-Zahir”.


Nama Sultan Zain al-Abidin dalam berita–berita Tiongkok dikenal dengan Tsai-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643) menyebutkan, Raja ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani oleh sida-sida China, Yin Ching kepada mahararaja China, Ch’engtsu (1403-1424). Maharaja China kemudian mengeluarkan dekrit pengangkatannya sebagai Raja Samudera dan memberikan sebuah cap kerajaan dan pakaian kerajaan. Pada tahun 1415 Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan Samudera. Diceritakan, Sekandar, kemanakan suami kedua Ratu, bersama pengikutnya, merampok Cheng Ho. Serdadu–serdadu China dan Ratu Kerajaan Samudera dapat mengalahkan Sekandar. Ia ditanggap lalu dibawa ke Tiongkok untuk dijatuhi hukuman mati. Ratu yang dimaksud dalam berita China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasiyah.



2. Sultanah Safiatuddin Syah ( 1641 - 1675 )



Bersyukur bahwa catatan tentang Sultanah Safiatuddin Syah cukup banyak sehingga dapat memberikan gambaran yang memadai mengenai kepemimpinannya. Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat. Syafiatuddin Syah yang lahir tahun 1612, anak tertua Sultan Iskandar Muda. Puteri Syafiatuddin tumbuh menjadi gadis yang rupawan, cerdas dan berpengetahuan. Setelah dewasa, dia dinikahkan oleh ayahnya dengan Iskandar Thani, putera Sultan Pahang yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Tahun 1636, Sultan Iskandar Muda meninggal. Menantunya lalu diangkat menjadi Sultan Aceh. Lima tahun memerintah, ia meninggal (15 Ferbruari 1642) tanpa memberikan keturunan. Tiga hari setelah berkabung, para pembesar kerajaan sepakat mengangkat sang permaisuri menjadi raja. Namun, menjelang penobatannya, muncul pertentangan. Ada dua alasan. 

Pertama Sultan Iskandar Thani tidak berputra dan kedua, soal kelayakan perempuan menjadi raja. Persoalan tersebut diserahkan kepada ulama senior yang sangat berpengaruh saat itu, yaitu Tengku Abdurrauf dari Singkil. Ia menyarankan pemisahan urusan agama dengan urusan pemerintahan. Dari sudut adat dan hukum Islam, Syafiatuddin memenuhi sarat sebagai pemimpin. Selain itu, Syafiatuddin memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang cukup. Para ulama juga mengeluarkan fatwa, bahwa urusan agama dan negara harus dipisahkan sepanjang keduanya tidak saling bertentangan.


Sultanah Safiatuddin Syah memerintah selama 35 tahun (1641- 1675). Inilah masa-masa yang paling sulit karena situasi Malaka saat itu sedang panas dengan adanya perseteruan VOC dengan Potugis merebut pengaruh sehingga sang ratu tidak bisa terhindar darinya karena Aceh merupakan pusat dagang utama. Sultanah sangat memperhatikan pengendalian pemerintahan, pendidikan, keagamaan dan perekonomian. Namun, agak mengabaikan soal kemeliteran. Pada tahun 1668, misalnya, ia mengutus ulama-ulama Aceh ke negeri Siam untuk menyebarkan agama Islam. 

Sebagaimana ayahnya, ia pun sangat mendorong para ulama dan cerdik pandai mengembangkan ilmu pengetahuan dengan mensponsori penulisan buku-buku ilmu pengetahuan dan keagamaan. Dalam ekonomi, ia menerbitkan mata uang emas dan menerapkan cukai bagi pedagang asing yang berdagang di Aceh. Dalam urusan kenegaraan, ia membentuk dua lembaga pemerintahan, yaitu Balai Laksamana (Angkatan Perang yang dikepalai oleh seorang Laksamana) dan Balai Fardah (Lembaga yang mengatur keuangan kerajaan seperti pemugutan cukai dan mengeluarkan mata uang).


Selain itu, Sultanah membentuk lembaga tempat bermusyawarah, yaitu Balai Rungsari (institusi yang terdiri empat uleebalang besar Aceh), Balai Gadeng (beranggotakan 22 ulama besar Aceh), Balai Mejelis Mahkamah Rakyat (semacam DPR yang beranggotakan 73 orang yang mewakili daerah pemukiman). Yang menarik adalah, diantara 73 anggota dewan tersebut, terdapat sejumlah wanita. Ia adalah seorang raja besar yang sangat dihormati oleh rakyatnya dan disegani oleh negara asing (Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab). Ia meninggal 23 Oktober 1675. Oleh penurusnya, Sultanah Safiatuddin Syah tetap dihormati dengan mencantumkan namanya Sultanah pada setempel / segel kerajaan. Selanjutnya, kerajaan diperintah oleh Naqiatuddin dengan gelar Sri Sultan Nurul-Alam Naqiatuddin Syah.



3. Ratu Inayat Zakiatuddin Syah



Naqiatuddin Syah meninggal, digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Menurut orang Inggris yang mengunjunginya tahun 1684, usianya ketika itu sekitar 40 tahun. Ia digambarkan sebagai orang bertubuh tegap dan suaranya lantang. Pada masa pemeritahannya, Aceh mendapatkan kunjungan dari Inggris yang hendak membangun sebuah benteng pertahanan guna melindungi kepentingan dagangnya. Ratu menolaknya dengan mengatakan, Inggris boleh berdagang, tetapi tidak dizinkan mempunyai benteng sendiri. Tentu Ratu tahu apa maksud dari benteng yang dipersenjatai itu. Tamu lainnya adalah kedatangan utusan dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El. Hajj Yusuf E. Qodri yang diutus oleh Raja Syarif Barakat yang datang tahun 1683. Dari utusan tersebut Ratu menerima sejumlah hadiah. Sekembali ke Mekkah, utusan melaporkan kepada Raja Syarif betapa baik dan sempurnanya pemerintahan Ratu Kerajaan Aceh yang rakyatnya taat memeluk Islam. Sama halnya dengan dua ratu sebelumnya, Zakiatuddin Syah mengeluarkan mata uang sendiri. Ratu meninggal 3 Oktober 1688 lalu digantikan oleh Kamalat Zainatuddin Syah.



4. Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah


Sultanah Naqiatuddin adalah puteri Malik Radiat Syah. Hal penting dan funamental yang dilakukan oleh Naqiatuddin pada masa pemerintahannya adalah melukakan perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Aceh dan Adat Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi. Maksud dari pemerintahan macam ini agar birokrasi tersentralisasi dengan – menyerahkan urusan pemerintahan dalam kenegarian-kenegarian yang terbagi Tiga Sagi itu. Namun, setiap Sagi tidak berarti melakukan pemerintahan sendiri-sendiri. Untuk situasi sekarang, sistim pemerintahan Kerajaan Aceh dulu sama dengan otonomi daerah. Sultanah juga menyempurnakan Adat Meukuta Alam yang dulu dirancang oleh Sultan Iskandar Muda. Hal lain yang dilakuakan oleh Sultanah adalah mengeluarkan mata uang emas. Masa pemerintahannya yang singkat (1675-1678), memang tidak ada prestasi besar yang dicapainya. Bebarapa peristiwa besar dialaminya, terbakarnya Mesjid Raya Baiturrahman dan Istana yang banyak menyimpan kekayaan emas dan perhiasan.



5. Ratu Kamalat Zainatuddin Syah


Silsilah ratu ini tidak banyak diketahui. Ada dua versi tentang asal usulnya. Perkiraan pertama ia anak angkat Ratu Sultanah Safiatuddin Syah dan lain pihak mengatakan ia adik Ratu Zakiatuddin Syah. Yang jelas, Ratu Zakiatuddin Syah berasal dari keluarga-keluarga Sultan Aceh juga.


Pada masa Kamalat Syah bertahta, para pembesar kerajaan terpecah dalam dua pendirian. Golongan orang kaya bersatu dengan golongan agama menginginkan kaum pria kembali menjadi Sultan. Kelompok yang tetap menginginkan wanita menjadi raja adalah Panglima Sagi. Perbedaan pendapat itu sebetulnya bukan sesuatu yang baru dan pernah menimbulkan kontak senjata. Namun, kemudian kedudukan Kamalat Syah tidak dapat lagi dipertahankan setelah para ulama meminta pendapat dari Qadhi Malikul Adil dari Mekkah. Dalam surat balasannya, Malikul Adil menyatakan bahwa kedudukan wanita sebagai raja bertentangan dengan syariat Islam. Ia turun tahta pada bulan Oktober 1699. Pada masa pemerintahannya, ia mendapatkan kunjugan dari Persatuan Dagang Perancis dan serikat dagang Inggris East Indian Company. Ia sempat pula mengeluarkan mata uang emas



6. Laksamana Malahayati atau “ Keumalahayati ”



Wanita Aceh yang satu ini bukanlah pendekar komik dari negeri antah barantah. Ia benar - benar ada. Keumalahayati namanya. Ia seorang Laksamana (Panglima Perang) Kerajaan Aceh. Malahayati merupakan figur yang banyak muncul dalam cacatan penulis asing dan bangsa Indonesia sendiri. Malahayati menjadi Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al Mukammil (1589-1604). Ia mendapat kepercayaan menjadi orang nomor satu dalam militer dari sultan karena keberhasilannya memimpin pasukan wanita. Ia berasal dari keturunan sultan. Ayahnya, Mahmud Syah, seorang laksamana. Kakeknya dari garis ayahnya, juga seorang laksamana bernama Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin Syah yang memerintah tahun 1530-1539. Sultan Salahhuddin sendiri putera Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) pendiri kerajaan Aceh Darussalam. Dilihat dari asal keturunannya, darah meliter berasal dari kakeknya. Pembentukan pasukan wanita yang semuanya janda yang disebut Armada Inong Bale itu merupakan ide Malahayati. Maksud dari pembentukan pasukan wanita tersebut, agar para janda tersebut dapat menuntut balas kematian suaminya. Pasukan ini mempunyai benteng pertahahanan. Sisa - sisa pangkalan Bale Inong masih ada di Teluk Kreung Raya.


John Davis, seorang berkebangsaan Inggris, nahkoda kapal Belanda yang mengunjungi Kerajaan Aceh pada masa Malahayati menjadi laksamana, melaporkan, Kerajaan Aceh pada masa itu mempunyai perlengkapan armada laut terdiri dari 100 buah kapal perang, diantaranya ada yang berkapasitas 400-500 penumpang. Ketika itu Kerajaan Aceh memiliki angkatan perang yang kuat. Selain memiliki armada laut, di darat ada pasukan gajah. Kapal-kapal tersebut bahkan juga ditempatkan di berbagai tempat kekuasaan Aceh. Kekuatan Keumalahayati mendapat ujian ketika terjadi kontak senjata antara Aceh dengan pihak Belanda. Pada tanggal 21 Juni 1599, dua kapal Belanda yang dipimpin dua bersaudara Coernelis de Houtman dan Federick de Houtman berlabuh dengan tenang di Aceh. Karena mendapat hasutan dari Portugis, Laksamana Malahayati menyerang kedua kapal tersebut. Dalam penyerangan itu, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh. Sedangkan Federick de Houtman ditawan dan dijebloskan ke tahanan Kerajaan Aceh. Sesuatu yang menggegerkan bangsa Eropa dan terutama Belanda – sekaligus menunjukkan kewibawaan Laksamana Keumalahayati ketika Mahkamah Amstredam menjatuhkan hukuman denda kepada van Caerden sebesar 50.000 gulden yang harus dibayarkan kepada Aceh.


Uang sejumlah itu benar-benar dibayarkan kepada yang berhak. Bayar denda tersebut adalah buntut tindakan Paulus van Caerden ketika datang ke Aceh menggunakan dua kapal menenggelamkan kapal dagang Aceh serta merampas muatan lada lalu pergi meninggalkan Aceh. Peristiwa penting lainnya selama Malahayati menjadi Laksama adalah ketika ia mengirim tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdoelhamid, Sri Muhammad dan Mir Hasan ke Belanda. Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari sebuah kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Belanda. Banyak cacatan orang asing tentang Malahayati. Kehebatannya memimpin sebuah angkatan perang ketika itu diakui oleh negara Eropa, Arab, China dan India. Namanya sekarang melekat pada kapal perang RI, KRI Malahayati.



7. Cut Nyak Dhien



Nama Cut Nyak Dhien bagai sebuah legenda. Setelah suaminya, Teuku Umar meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan : hidup atau mati di hutan belantara daripada menyerah kepada Belanda. Ia membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi oleh pasukan marsose Belanda yang mengejarnya. Adakalanya ia berminggu-minggu tidak menjumpai sesuappun nasi, makan apa saja ditemui di hutan. Ia melakukan itu selama 6 tahun. Ketika itu ia sudah tua dan matanya rabun. Bila mau, dia bisa menghindari kehidupan seperti itu. Hanya orang yang luar biasa yang menjalaninya. Bagaimana tidak. Ia tumbuh sebagai anak yang manja. Sebagai anak uleebalang, ia setaraf dengan wanita bangsawan lainnya. Ia lahir tahun 1848. Ayahnya, Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang. Ibunya juga keturunan bangsawan. Sebagai lazimmnya anak bangsawan, Cut Nyak Dien mendapatkan pendidikan yang baik, terutama pendidikan agama dan pengetahuan tentang rumahtangga. Setelah dewasa, ia dijodohkan dengan Teuku Ibrahim. Dari pernikahannya itu, ia memperoleh seorang anak laki-laki. Ia mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan oleh suaminya di medan peperangan. Bahkan, Cut Nyak Dien aktif di garis depan. Akibatnya ia jarang berkumpul dengan suami dan anaknya.


Karena Belanda lebih unggul soal persenjataan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang Aceh sendiri, lama-lama daerah kekuasaan Aceh semakin banyak jatuh ke tangan Belanda - termasuk daerah yang dikuasai Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien dan keluarganya terpaksa mengungsi. Pada tanggal 28 Juni 1878, Teuku Ibrahim dan pengikutnya gugur dalam pertempuran. Cut Nyak Dien menjadi janda muda, namun tetap cantik. Kebencian Cut Nyak Dien terhadap Belanda makin membara. Lalu terucaplah janjinya, lelaki yang dapat membalas kematian suaminya, akan diterimanya sebagai suami. Seorang lelaki pejuang, Teuku Umar akhirnya menebus kematian suaminya. Sebagaimana janjinya, maka ia menikah dengan Teuku Umar. Bersama Cut Nyak Dien, Teuku Umar memarakkan lagi peperangan melawan Belanda. Cut Nyak Dien dengan pengikutnya melakukan perang gerilya. Dari pernikahannya dengan Teuku Umar, ia mendapat seorang anak yang diberi nama Cut Gambang. Kemudian anaknya dinikahkan dengan Teuku Di Buket, anak lelaki Teuku Cik Di Tiro. Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar tewas dalam pertempuran. Cut Nyak Dien kembali menjadi janda. Peperangan ia teruskan seorang diri.


“… selama aku masih hidup, masih berdaya, perang suci melawan kafir ini kuteruskan …” bagian sumpah Cut Nyak Dien sepeninggal suaminya. Ia memimpin peperangan dari persembunyianya di gunung-gunung.


Kehidupan Cut Nyak Dien amat sengsara. Ia tidak memiliki apa–apa lagi kecuali semangat pantang menyerah. Ia pun ditinggalkan banyak pengikutnya. Mungkin karena tidak tega melihat penderitaan Cut Nyak Dien, Pang Laot Ali, selaku panglimanya mulai berpikir menyerah sebagai jalan membebaskan Cut Nyak Dien dari penderitaan. “Takluk kepada kaphe ? Cis, najis, semola Allah Subhanahu Watala menjauhkan perbuatan yang sehina itu dari diriku,” ujar Cut Nyak Dien. Namun, Pang Laot Ali tetap tidak sampai hati melihat penderitaan pemimpinnya. Pang Laot Ali membuat perjanjian dengan pihak Belanda agar tidak menyakiti Cut Nyak Dien. Sebagaimana petunjuk Pang Laot, persembunyian Cut Nyak Dien ditemukan oleh Belanda. Dalam keadaan buta dan lemah, ia mengangkat kedua tangannya dengan kesepuluh jarinya dikembangkan. Dari mulutnya keluar kata-kata “Ya, Allah, ya Tuhan inikah nasib perjuanganku ? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”. Dengan tandu, Cut Nayak Dien dibawa Belanda. Tanggal 11 Desember 1906, Pemerintah Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien dan kemanakannya ke Sumedang, Jawa Barat. Pada 9 November 1908 ia meninggal.




8. Cut Meutia



Memegang pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, rambut terurai, tanpa ada keraguan sedikit pun, Cut Nyak Meutia menyongsong pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mosselman. Satu peluru di kepala dan dua di tubuhnya merubuhkan wanita yang digambarkan berparas cantik, kulit kuning berambut panjang. Ia tewas tangal 25 Oktober 1910 di hulu Sungai Peutoe setelah pengejaran yang melelahkan oleh pasukan elit Belanda. Cut Muetia lahir tahun 1870. Ayahnya, Teuku Ben Daud, seorang uleebalang Pirak yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ibunya bernama Cut Jah. Ia mempunyai empat saudara laki-laki. Cut Meutia tumbuh menjadi gadis cantik dan bertubuh indah dengan pembawaan yang lembut. Pesonanya sesuai dengan namanya Muetia yang diartikan Mutiara. Kecantikan dan kehalusan budinya membuat dirinya menjadi primadona.


Banyak pria yang hendak meminangnya sampai akhirnya ia menikah dengan Teuku Syamsarif seorang uleebalang tahun 1890 dalam sebuah pernikahan yang agung sebagai anak uleebalang. Dibalik wajahnya yang lembut dan tutur bahasanya yang santun itu, hatinya sebetulnya bagai kawah gunung berapi yang bergelegak memendam kebencian terhadap Belanda sebagaimana juga ayahnya dan saudara-saudaranya. Sebagai anak bangsawan yang dimanjakan, ia sebetulnya tidak menuntut kemewahan dan kemanjaan. Dirinya adalah lambang penderitaan rakyatnya. Kepribadiannya itu tidak dapat diubah oleh siapapun, termasuk oleh suaminya sendiri. Pandangan dan kepribadiannya seperti itu sangat bertentangan dengan suaminya yang senang kedudukan, kemewahan serta mengagungkan martabat tinggi.


Untuk memenuhi kesenangannya, ia bersedia bekerja sama dengan Belanda. Ia memangku uleebalang atas pilihan Belanda. Sedangkan jauh sebelumnya, Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah sudah mengangkat Teuku Cut Mahammad, adik Teuku Syamsarif sebagai uleebalang. Jadi, ketika itu, di Keureutoe terdapat dua uleebalang. Kakak beradik itu bagai langit dan bumi. Sang kakak berkiblat kepada Belanda, sedangkan sang adik berpihak kepada kemerdekaan.


Antara Cut Meutia dengan Teuku Syamsarif seperti campuran minyak dengan air. Cut Meutia sudah berusaha membujuk suaminya agar berpaling dari penjajah, tetapi tidak pernah ditanggapi. Karena tidak juga diindahkan, Cut Meutia meminta diceraikan saja oleh suaminya. Akhirnya Cut Meutia kembali kepada orangtuanya. Karena Teuku Syamsarif tidak menjemputnya dan juga memberikan nafkah, maka mereka dianggap sudah bercerai. Bercerai dari suaminya, gelora jiwanya terlepas bebas sudah. Ia pun ikut bergerilya bersama ayah dan saudara-saudaranya. Namun, Teuku Ben Daud tidak mengizinkannya karena yang ia seorang janda. Kemudian ia dinikahkan dengan Teuku Cut Muhammad (Chik Tunong) dan barulah ia benar-benar ikut angkat senjata. Seterusnya ia mendampingi suaminya berperang. Tanggal 5 Maret 1905, Teuku Chik Tunong tertangkap kemudian dihukum tembak. Sebelum dijatuhi hukuman, ia meminta bertemu dulu dengan Cut Meutia dan anaknya Teuku Raja Sabi, 5 tahun. Ia berpesan agar melanjutkan perlawanan terhadap Belanda, anaknya dididik agar terus mempunyai kebencian terhadap Belanda. Cut Muhammad menyarankan menikah Cut Meutia dengan Pang Naggore.


Pang Nanggroe adalah seorang panglima perang cerdik dan licin. Setelah melahirkan anaknya dari Chik Tunong, akhirnya Cut Meutia menikah dengan Pang Nanggroe. Bersama suaminya yang ketiga ini, Cut Meutia meneruskan perjuangan sampai akhirnya ditemukan Belanda. Perjuangannya diteruskan oleh anaknya, Teuku Raja Sabi.




9. Pocut Baren



Pocut Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barta Aceh. Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla. Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita, sanggup hidup waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun 1910.


Ia memimpin pasukannya di belahan barat bersamaan dengan Cut Nyak Dien ketika masih aktif dalam perjuangan. Ia telah mempersiapkan dirinya - bila kelak ditinggalkan oleh suaminya dan sudah tahu apa harus diperbuat nantinya. Ketika suaminya tertembak Belanda, tidak membuat Pocut Baren mundur. Semangatnya malah semakin menggebu.


Suatu penyerangan besar - besar dibawah pimpinan Letnan Hoogers, meluluhkan benteng pertahanan Pocut Baren. Kaki Pocut Baren tertembak dan dibawa ke Meulaboh. Selama ditawan di Meulaboh, luka tembaknya tidak kunjung membaik. Kemudian Pocut Baren dibawa ke Kutaraja untuk dilakukan pengobatan lebih intensif. Namun, dokter memutuskan kakinya diamputasi. Selama dalam tawanan, Pocut Baren diperlakukan dengan baik. Sebagai penghargaan atas dirinya, Belanda menghadiahkan sebuah kaki palsu untuknya – yang didatangkan khusus dari Belanda. Ia wafat tahun 1933. Meninggalkan rakyatnya yang sangat mencintainya.




10. Pocut Meurah Intan



Pocut Meurah Intan seorang puteri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Pocut Meurah menikah dengan Tuanku Abdul Majid, salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh. Ia seorang pejabat bea cukai pelabuhan yang gigih menantang kehadiran Belanda. Dari pernikahannya dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Meurah mendapat tiga anak laki-laki. Belanda mencatat, bahwa Pocut Meurah salah satu figur dari Kesultanan Aceh yang paling anti Belanda. Dalam laporan kolonial (Koloniaal Verslag) tahun 1905, sampai tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalah Pocut Meurah Intan. Semangat anti Belanda yang teguh itulah yang diwariskannya pada puteranya sehingga mereka bersama-sama dengan pejuang Aceh lainnya menentang Belanda. Ia bercerai dengan suaminya karena Tuanku Abdul Majid menyerahkan diri kepada Belanda. Lalu ia mengajak anak-anaknya terus berperang. Dua diantara anaknya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, kemudian menjadi terkenal sebagai pemimpin pergerakan. 

Intensitas patroli Belanda yang semakin meningkat, membuat Pocut Meuran Intan bersama kedua putranya tertangkap marsose. Namun, sebelum tertangkap, ia masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak lawan. Valtman, pemimpin pasukan Belanda yang berpengalaman di Aceh dan baik hati, menyebutnya sebagai heldhaftig (gagah berani). “Kalau begitu, biarlah aku mati,” ucap Pocut Meuran Intan. Lalu ia mencabut rencongya menyerbu brigade tempur Belanda. Ia mengalami luka parah. Terbaring di tanah digenangi darah dan lumpur. Veltman mengira ia tewas lalu meninggalkannya. Kata Valtman, biar dia meninggal ditangan bangsanya sendiri. Pocut Meuran Intan ternyata masih hidup. Ia diselamatkan. Veltman kemudian mengirim dokter untuk merawat luka-lukanya. Namun, Pocut Meuran menolak dokter Belanda itu. Ia sembuh, tetapi kondisi tubuhnya tidak lagi sekuat sebelumnya. Kemudian, bersama putranya, Pocut Meurah Tuanku Budiman dimasukkan ke penjara. Sementara putranya yang lain, Tuanku Nurdin tetap melanjutkan perjuangan sampai kemudian ditahan oleh Belanda. Pocut Meurah Intan yang pincang dengan kedua putranya 6 Mei 1905 kemudian diasingkan ke Blora, Jawa. Pada 19 Septembar 1937 Pocut Meurah Intan meninggal. 







Saleum Rakan
RANUP ATJEH

Rabu, 26 Februari 2014

Cut Nyak Meutia Perempuan yang Dipuja Belanda

Cut Nyak Meutia

H C Zentgraaff penulis berkebangsaan Belanda sangat mengagumi perempuan Aceh dalam  tulisannya tentang perang Aceh. Cut Nyak Meutia salah satu dari sekian banyak wanita yang dipuja dalam bukunya.

H C Zentgraaff merupakan mantan serdadu Belanda yang dimasa pensiunnya beralih menjadi wartawan. Terakhir menjabat sebagai redaktur di surat kabar  Java Bode. Tulisan-tulisannya di surat kabar tersebut kerap “menyerang” pemerintah kolonial Belanda. Ia mengkritik kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan oleh pasukan marsose.


Tulisan-tulisannya tentang perang di Aceh kemudian dibukukan dalam buku “Aceh” terakhir diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1982/1983, yang diterjemahkan dari buku aslinya “Atjeh” oleh Firdaus Burhan. Dalam buku itu Zentgraaf mengungkapkan kekagumannya kepada wanita Aceh yang tidak hanya menjadi pendorong bagi suaminya dalam berperang melawan Belanda, tapi juga ikut terjun dalam garis depan peperangan. Ia menulis:

“...Wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya dalam keberanian dan tidak gentar mati. Bahkan, mereka melampaui kaum laki-laki Aceh yang sudah dikenal bukan sebagai lelaki yang lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka. Mereka menerima hak azasinya di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka di antara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama-sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya, dan dalam tangan yang mungil itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di jalan Allah, mereka menolak segala macam kompromi...”

Bahkan lebih lanjut Zentgraaff mengungkapkan, sebagaimana dikutip kembali oleh Nasruddin Sulaiman dalam Wanita-wanita Utana Nusantara dalam Lintasan Sejarah, bukan suatu kemustahilan bila ada perempuan Aceh yang tidak mau lagi mengakui suaminya karena telah melapor diri (menyerah) kepada Belanda, apalagi kalau suami mereka telah bekerja sama dengan Belanda.

Zentgraaf mengungkapkan, Cut Nyak Meutia merupakan salah satu di antara banyak perempuan Aceh yang bersikap seperti itu, yang berjuang melawan Belanda sampai titik darah penghabisan. Cut Nyak Meutia lahir di daerah Uleebalang Keureutoe pada tahun 1870. Zentgraaf mengambarkannya sebagai perempuan dengan paras cantik, ia menulis, “Pada umurnya yang menanjak dewasa parasnya yang cantik semakin tampak dan sesuai benar dengan namanya, Meutia yang berarti mutiara. Sesungguhnya ia sebutir mutiara di antara kaum wanita. Meutia tidak hanya berwajah cantik, melainkan juga seorang tokoh pemberani dan agung.”

Cut Nyak Meutia adalah putri dari Teuku Ben Daud, uleebalang Pirak yang masuk dalam wilayah Keureutoe. Ibu Cut Nyak Meutia bernama Cut Jah putri dari Ben Seuleumak. Ibu Cut Nyak Meutia juga dipanggil Cut Mulieng karena berasal dari Gampong Mulieng. Dari kedua orang tuanya itu, Cut Nyak Meutia mempunyai empat orang saudara laki-laki, yaitu Teuku Cut Brahim, Teuku Cut Hasan, Teuku Cut Muhammad Syah dan Teuku Cut Muhammad Ali.

Masa kecil Cut Nyak Meutia hidup dalam didikan agama yang diajarkan oleh para ulama yang didatangkan oleh ayahnya sebagai tenaga pengajar, sebagaimana lazimnya dilakukan oleh keluarga uleebalang di Aceh. Hal itu membuat Cut Nyak Meutia menjadi pribadi yang taat dan teguh memegang prinsip. Ia rela berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan dan nyawanya untuk membela agama dan bangsanya.

Hal itu dibuktikannya ketika ia dengan suka rela meninggalkan kesenangan dan kemewahan hidupnya sebagai seorang istri uleebalang, begitu mengetahui suaminya menjalin kerja sama dengan Belanda. Setelah suaminya bersedia menandatangani korte verklaring yang diajukan Belanda, Cut Nyak Meutia memilih berpisah dengan suaminya dan mengembara untuk berjuang melawan penjajahan Belanda.

Untuk  melawan Belanda, rakyat Keuretoe dan Pirak dipersiapkan melalui pendidikam di dayah-dayah. Di Keuereutoe saat itu terdapat sebuah dayah yang sangat terkenal yakni Dayah Teungku Beuringen.

Ayah Cut Nyak Meutia, Teuku Ben Daud terus menggalakkan peperangan untuk melawan Belanda. Ia merupakan pengikut setia Sulthan Aceh, Muhammad Daud Syah, yang saat itu sudah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan ke Keumala, Pidie. Bantuan yang diberikan Teuku Ben Daud kepada sulthan semakin besar ketika sebagian Aceh Utara sudah dikuasai Belanda. Ia mengkoordinasi rakyatnya untuk mengumpulkan perbekalan serta membentuk angkatan perang.

Teuku Ben Daud yang dibantu oleh anak-anaknya, para ulama dan pengikutnya, tetap menolak untuk bekerja sama dengan Belanda. Ia tidak bersedia menandatangani Korte Verklaring  yang ditawarkn Belanda meskipun beberapa uleebalang yang ada disekitarnya sudah melakukannya. Maka perang pun berlanjut dan Belanda akhirnya bisa menuasai darah kekuasaan Teuku Ben Daud.

Meski daerah kekuasaannya telah dikuasai Belanda, Teuku Ben Daud terus melakukan perlawanan. Ia mengundurkan diri ke daerah hulu Krueng Jambo Aye, dari sana ia terus mengkoordinir pasukannya untuk menyerang Belanda, hingga ia syahid di sana. Sejak tahun 1905, daerah itu pula yang digunakan Cut Nyak Meutia sebagai pusat pertahanan.

Dipinang

Sebagai gadis dari keturunan uleebalang, yang cantik dan taat beragaman, Cut Nyak Meutia menarik perhatian banyak lelaki. Banyak pinangan yang datang, tapi Teuku Ben Daud tidak mengambil keputusan sendiri, hal itu selalu ditanyakan kepada Cut Nyak Meutia.

Dari sekian banyak pinangan yang datang, hanya pinangan dari Cut Nyak Asia yang diterima. Cut Nak Asia waktu ittu ingin menikahkan puteranya, Teuku Syamsarif dengan Cut Nyak Meutia. Begitu menerima lamaran itu, Teuku Ben daud langsung melakukan musyawarah keluarga. Hasilnya diputuskan kesepkatan untuk menerima pinangan tersebut.

Perkawinan Cut Nyak Meutia dengan Teuku Syamsyarif terjadi pada tahun 1890. Setelah menikah, Cut Nyak Meutia menetap di Keureutoe bersama suaminya. Di Keureutoe Cut Nyak Meutia memulai hidup baru dengan wilayah kekuasaan yang melebihi daerah keuleebalangan Pirak. Sejak menikah dengan Teuku Syamsyarif, nama Cut Meutia mendapat tambahan gelar Nyak, sehingga menjadi Cut Nyak Meutia.

Masa awal kehidupan rumah tangganya dengan Teuku Syamsyarif di Keureutoe dilalui dengan biasa-biasa saja. Cut Nyak Meutia menjalankan kehidupannya sebagai orang yang taat beragama, yang tidak mengharapkan kemewahan. Ia tetap memendam permusuhan terhadap Belanda yang mulai menguasai sebagai daerah Aceh Utara. Kepribadian Cut Nyak Meutia yang seperti itu tidak dapat diubah oleh siapapun, bahkan oleh suaminya sendiri.

Sikapnya yang menentang Belanda sangat bertolak belakang dengan sikap suaminya yang senang pada kedudukan dan kemewahan. Malah untuk memenuhi semua itu ia bersedia bekerja sama dengan Belanda, sehingga ia mendapat kehormatan dan kedudukan dengan berbagai fasilitas dari Belanda. Hal inilah yang membuat Cut Nyak Meutia tidak dapat mempertahankan kehidupan rumah tangganya.

Cut Nyak Meutia menunjukkan sikap tidak senangnya ketika semakin hari suaminya semakin dekat dengan Belanda. Ia berusaha merubah sikap suaminya itu untuk tidak tunduk kepada Belanda, tapi gagal. Malah Teuku Syansyarif karena kedekatannya dengan Belanda kemudian mendapatkan anugrah dari Van Huestz sebagai uleebalang Keureutoe menggantikan  ibunya Cut Nyak Asiah.

Tentang hal itu diungkapkan M.H. Du Croo dalam buku “General Swart Pacifikator van Atjeh” terbitn 1943. Pengangkatan Teuku Syamsarif sebagai uleebalang Keureutoe sangat melukai hati Cut Nyak Meutia. Padahal jauh sebelumnya, Sultah Aceh Muhammad Daud Syah telah mengangkat Teuku Cut Muhammad, adiknya Teuku Syamsyarif sebagai uleebalang melalui sarakata  sultan lengkap dengan stempel kerajaan.

Sulthan mengangkat Teuku Cut Muhammad sebagai uleebalang, karena ia merupakan figur yang sangat berpengaruh di kalangan rakyat. Upaya Belanda mengangkat Teuku Syamsyarif sebagai uleebalang dinilia sebagai bagian dari politik untuk memecah belah rakyat Keureutoe. Kedekatan Teuku Syamsyarif dengan Belanda juga bertujuan untuk merebut kekuasaan adiknya sebagao uleebalang dengan banuan Belanda.

Karena itu di Keureutoe wakti itu terdapat dua uleebalang, yang satu Teuku Cut Muhammad yang digelari Tuuku Chik Tunong karena berkedudukan di Tunong (utara), satu lagi Teuku Syamsyarif yang digelari Teuku Chik di Baroh karena wilayah kekuasaannya ada diBaroh (utara), yang satu diangkat oleh sulthan satunya lagi oleh Belanda.

Teuku Cut Muhammad uleebalang yang diangkat oleh sulthan merupakan tokoh yang kuat kepribadiannya, yang berperang bersama rakyat melawan Belanda.  Ia mempunyai pengaruh yang luas sampai ke luar wilayah kekuasaannya. Sebaliknya Teuku Syamsyarif yang diangkat oleh Belanda merupakan tokoh yang lamban yang tidak didengar perintahnya oleh rakyat Keuretoe.

Dalam keadaan seperti itu, Cut Nyak Meutia berontak pada suaminya, ia teringat pada ayah dan keluarganya yang giat berjuang melawan Belanda. Ia sama sekali tidak senang dengan sikap suaminya yang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Perubahan sikap Cut Nyak Meutia itu dirasakan oleh suaminya, Tetapi Teuku Syamsyarif tidak mengetahui penyebabnya.

Suatu malam setelah shalat magrib, Teuku Syamsyarif bertanya pada Cut Nyak Meutia tentang perubahan sikapnya tersebut. Terhadap pertanyaan itu Cut Nyak Meutia menjawab bahwa secara tidak langsung suaminya itu sudah mengetahuinya. Tapi Teuku Syamsyarif mengatakan tidak mengetahuinya, hingga ia kemudian berkata bahwa bukankah setiap wanita menginginkan kedudukan yang tinggi dengan kemewahan hidup. Terhadap pernyataan suaminya itu, Cut Nyak Meutia menjawab bahwa suaminya itu tidak memiliki derajat tinggi tapi ditinggikan oleh Belanda. Ia meminta kepada suamninya itu agar diceraikan dan dikembalikan kepada ayahnya di Pirak.

Mendengar permintaan itu, Teuku Syamsyarif terkejut. Ia sama sekali tidak menduga Cut Nyak Meutia akan meminta seperti itu. Ia berusaha membujuk Cut Nyak Meutia agar tidak meminta cerai. Mereka bedua kemudian melaksnakan shalat isya berjamaah yang diimami oleh Teuku Syamsyarif, seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara keduanya.

Jauh sebelum permintaan cerai itu disampaikan oleh Cut Nyak Meutia, ia sudah berulang kali menyampaikan kepada suaminya bahwa tempatnya bukan di Keureutoe, bukan dalam genggaman Belanda, tapi di tanah merdeka. Ia ingin bergabung dengan ayah dan  saudara-saudaranya yang masih berjuang melawan Belanda.

Terhadap prinsip Cut Nyak Meutia itu Zentgraaff menulis: “Wanita semacam ini bukanlah pasangan Teuku Bentara (Syamsyarif) yang lamban itu, tidak pula cocok sebagai pasangan untuk mengabdi pada kompeni. Dia seorang putri bangsawan, hati dan jiwanya tertambat kepada kaum yang pantang menyerah, kaum yang berada di daerah pegunungan, yaitu para pejuang yang memilih jalan Allah. Di sanalah seharusnya cut Nyak Meutia berada dan terbebas dari kaphe (Belanda).”

Cut Nyak Meutia kemudian meninggalkan Keureuto kembali ke Pirak ke tempat ayahnya, Teuku Syamsyarif tidak pernah menjenguknya, dan bahkan tidak pernah mengirim nafkah. Ia pernah meminta kepad ayah Cut Nyak Meutia, Teuku Ben Daud agar Cut Nyak Meutia diantar kembali ke Keureutoe, ayah Cut Nyak Meutia tidak menolaknya, tapi ia meminta agar Teuku Syamsyarif menjemputnya sendiri kalau masih merasa membutuhkan istrinya. Hal itu tidak dilakukan Teuku Syamsyarif karena antara dirinya dan Cut Nyak Meutia sudah sangat jauh berbeda prinsip.

Karena tidak dijemput dan menafkahi istrinya sampai beberapa lama, maka Teuku Syamsyarif dinyatakan dipasah (diceraikan) dari istrinya. Setelah bercerai, Cut Nyak Meutia terbebas dari penderitaan batin. Ia kemudian menyatakan keinginannya pada ayahnya untuk ikut berperang melawan Belanda. Tapi keinginan itu tidak dikabulkan oleh ayahnya karena Cut Nyak Meutia baru menjadi janda.





Saleum Rakan
RANUP ATJEH

Ratu Zakiatuddin; Menolak Inggris Menerima Mekkah


Inayat Zakiatuddin Syah, ratu ketiga dalam Kerajaan Aceh, menolak Inggris yang ingin membangun benteng pertahanan, tapi menerima utusan Mekkah dengan sejumlah bingkisan. Sang ratu mengirim sedekah untuk fakir miskin di Mekkah.

RATU Inayat Zakiatuddin dinobatkan menjadi sulthanah Aceh pada Minggu, 23 Januari 1678 menggantikan Ratu Naqiatuddin Syah. Dalam kitab Bustanus Salatin, karangan Syeikh Nuruddin Ar Raniry, diungkapkan Ratu Inayat Zakiatuddin Syah awalnya dikenal dengan nama Putri Raja Setia Binti Sultan Muhammad Syah. Setelah dinobatkan sebagai ratu ia mendapat gelar Paduka Seri Sultanah Inayat Syah Zakiatuddin Syah Berdaulat Zil Allah Fir Alam.

Sementara itu, Rusdi Sufi dan Muhammad Gade Ismail dalam “Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah” menjelaskan, menurut orang-orang Inggris yang datang ke Aceh pada tahun 1684, umur Ratu Inayat Zakiatuddin Syah waktu itu sekitar 40 tahun. Ia digambarkan sebagai seorang yang berbadan tegap dan memiliki suara yang keras.

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah dalam memimpin kerajaan Aceh menggunakan Syaikh Abdur Rauf yang dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala sebagai mufti sekaligus penasehatnya. Hoesien Djajadininggrat dalam buku “Critisch Overzicht van de in Maleische Werken Vervae Gegevens Over de Geschiedenis van Het Soeltanaat van Atjeh” mengungkapkan, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah juga meminta Syaikh Abdur Rauf, ulama besar Aceh untuk mengarang kitab yang berisi tentang ulasan dan kumpulan Arba’in kompilasi 40 hadis yang berasal dari Nawawi.

Rusdi Sufi dan Muhammad Gade Ismail mengungkapkan, pada masa pemerintahan Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, beberapa utusan luar negeri datang ke Aceh membuka diplomasi, di antaranya dari Mekkah dan Inggris. Pada tahun 1684 utusan dari Kerajaan Inggris  mereka datang melalui Madras, ketika sampai di Aceh utusan Inggris menghadap Ratu Inayat Zakiatuddin Syah dan memohon kepada ratu agar diizinkan mendirikan sebuah kantor dagang yang diperkuat dengan benteng pertahanan sendiri.

Dengan tegas permintaan itu ditolak oleh Ratu Inayat Zakiatuddin Syah. Sebagai penguasa kerajaan Aceh ia menyadari dan mengerti arti sebuah benteng pertahanan bagi warga asing di wilayah kekuasaannya. Ratu Inayat Zakiatuddin Syah hanya mengizinkan  pihak Inggris mendirikan kantor maskapai perdagangannya di pelabuhan Aceh.

Pihak Inggris tidak diizinkan mendirikan benteng pertahanan di Aceh dengan penjelasan bahwa kerajaan Aceh mampu memberikan perlindungan bagi pihak asing yang membuka kantor perdagangannya di Aceh. Jawaban tegas tapi diplomatis dari Ratu Inayat Zakiatuddin Syah menunjukkan ketangguhan politik sang ratu dalam menjalin hubungan dengan luar negeri.

Sementara tentang kedatangan utusan Mekkah ke Aceh pada masa pemerintahan Ratu Inayat Zakiatuddin Syah dijelaskan oleh Muhammad Said dalam buku “Atjeh Sepandjang Abad” dalam buku itu dijelaskan, utusan dari Mekkah yang datang ke Aceh itu bernama El Hajj Yusuf E Qodri. Ia diutus oleh Raja Syarif Barakat ke India untuk memberikan bingkisan kepada Sulthan Mongol, Aurangzeb. Tapi karena tidak berhasil ke Mongol utusan itu sampai ke Aceh yang mereka kenal sebagai kerajaan yang taat kepada hukum-hukum Islam.

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah menerima utusan itu beserta bingkisan hadiahnya. Utusan dari Mekkah itu diterima dengan pergelaran upacara kebesaran. Para utusan dari Mekkah itu merasa sangat puas, apalagi Ratu Inayat Zakiatuddin Syah meminta kepada para utusan itu untuk tinggal beberapa waktu di Aceh karena Ratu Inayat Zakiatuddin Syah akan mempersiapkan bingnkiasan balasan kepada utusan itu untuk diserahkan kepada Raja Barakat.

Ada dua bingkisan yang diserahkan Ratu Inayat Zakiatuddin Syah kepada utusan dari Mekkah itu, kedua bingkisan tersebut berisi barang-barang berharga seperti emas murni, kasturi, kayu alu, kapur barus, sepasang terompah emas dan sejumlah uang sedekah untuk fakir miskin yang ada di Mekkah.

Sumber lainnya, Sutan Iljas Pamena dalam buku “Rentjong Atjeh di Tangan Wanita (Zaman Pemerintahan Raja-raja Puteri di Atjeh) terbitan 1959 mengungkapkan, sekembalinya ke Mekkah utusan itu menyampaikan kepada Raja Mekkah betapa baik dan sempurnya pemerintahan Ratu Inayat Zakiatuddin Syah di Kerajaan Aceh, yang rakyatnya taat beragama Islam, hidup rukun dan damai dalam kemakmuran.




Saleum Rakan
RANUP ATJEH